Pengaturan samawiIndeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |
|
C. PENGATURAN SAMAWI (ORGANISATION CELESTE)
Yang kita dapatkan dalam Qur-an tentang pengaturan samawi
pada pokoknya mengenai sistem matahari, tetapi disamping itu
terdapat isyarat-isyarat tentang fenomena-fenomena di luar
sistem matahari yang pada zaman modern ini sudah dapat
diungkapkan oleh ilmu pengetahuan.
Terdapat dua ayat penting yang ada hubungannya dengan orbit
matahari dan bulan.
Surat 21 ayat 33:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dan Dialah yang telah menciptakan malam
dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dan
keduanya itu beredar di dalam garis edarnya."
Surat 36 ayat 40:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan
dan malampun tidak dapat mendahului siang.
Masing-masing beredar pada garis edarnya."
Dengan ayat tersebut, telah disebutkan suatu fakta yang
sangat pokok, yaitu adanya orbit untuk bulan dan untuk
matahari; dan isyarat tentang berpindah-pindahnya
benda-benda tersebut dalam angkasa (space) dengan gerakan
khusus.
Di samping itu ada suatu hal negatif yang nampak dalam
pembicaraan ayat-ayat tersebut; diterangkan bahwa matahari
pindah diatas orbit, tetapi orbit itu tidak diterangkan
hubungannya dengan bumi. Pada waktu Qur-an diwahyukan,
manusia mengira bahwa matahari pindah tempat bersama dengan
bumi seperti keduanya terikat satu dengan lainnya. Gambaran
itu adalah sistem geocentrisme yang tersiar semenjak
Ptolomeus pada abad II SM, dan tetap dianut orang sampai
munculnya Copernicus pada abad XVI. Konsepsi Ptolomeus yang
diterima orang pada zaman Nabi Muhammad, tak tersebut dalam
Qur-an, baik dalam ayat ini atau ayat lainnya
ADANYA ORBIT BAGI BULAN DAN MATAHARI
Yang diterjemahkan dengan "orbit" adalah kata bahasa Arab
"Falak." Banyak penterjemah Perancis mengartikannya sebagai:
Sphere. Memang itu arti dasar. Dr. Hamidullah menterjemahkan
dengan "orbit ."
Kata tersebut telah menimbulkan kesulitan kepada ahli tafsir
Qur-an pada zaman dahulu, karena mereka itu tidak dapat
menggambarkan perputaran bulan dan matahari; oleh sebab itu
mereka mempunyai gambaran yang kurang tepat atau malah sama
sekali salah tentang peredaran bulan dan matahari dalam
angkasa. Si Hamzah Boubekeur (seorang ulama Maroko) dalam
terjemahan Qur-an yang ia lakukan menyebutkan bermacam-macam
tafsiran tentang falak seperti semacam axis (poros) seperti
batang dari besi dan suatu kitiran berkeliling sekitarnya;
sphere samawi, orbit, alamat zodiak, kecepatan, gelombang
... Kemudian ia menambahkan kata-kata ahli tafsir yang
masyhur al Tabari dari abad X-XI; "Kita harus tutup mulut
jika kita tidak tahu." Hal tersebut menunjukkan bahwa pada
waktu itu manusia belum dapat mengerti arti: orbit, daripada
matahari dan bulan. Sudah tentu, jika kata "Falak" itu
menunjukkan sesuatu tentang astronomi pada zaman Nabi
Muhammad, penafsiran ayat-ayat tersebut tidak akan
menimbulkan kesulitan. Hal tersebut berarti bahwa dalam
Qur-an terdapat idea-idea baru yang baru beberapa abad
kemudian menjadi jelas.
1. ORBIT UNTUK BULAN.
Pada zaman kita sekarang ini banyak orang sudah mengetahui
bahwa bulan sebagai satelit bumi berputar keliling bumi
setiap 29 hari. Tetapi perlu diadakan koreksi tentang
kebulatan orbit oleh karena astronomi modern memberi
excentriq15 kepada orbit bumi dan orbit bulan. Karena itu
maka jarak antara bumi dan bulan yang diperkirakan 384.000
km, itu hanya merupakan jarak pertengahan.
Di atas, kita telah melihat bahwa Qur-an menonjolkan
faedahnya mengamati gerak bulan untuk mengukur waktu (Surat
10 ayat 5, termuat pada permulaan bab ini) sering orang
mengkritik sistem perhitungan yang sudah kuno ini. Mereka
katakan tidak praktis tidak ilmiah jika dibandingkan dengan
sistem yang didasarkan atas peredaran bumi di sekitar
matahari yang dapat kita lihat dengan jelas dalam
penanggalan Yulius.
Kritik tersebut memerlukan dua penjelasan:
a) Qur-an, hampir 14 abad yang lalu, berbicara kepada
penduduk Jazirah Arab yang biasa memakai perhitungan bulan.
Perlu Qur-an bicara dengan mereka dalam bahasa yang mereka
fahami dan tidak mengacaukan kebiasaan mereka untuk mengukur
tempat dan waktu, apalagi kebiasaan itu memang cukup
memenuhi kebutuhan. Kita tahu bahwa penghuni-penghuni Sahara
biasa mengamati langit dengan petunjuk bintang-bintang atau
mengetahui waktu dengan perantaraan tahap-tahap bulan, yaitu
cara yang paling sederhana dan paling meyakinkan bagi
mereka.
b) Jika kita kesampingkan para spesialis dalam hal ini, kita
dapat mengatakan bahwa pada umumnya orang tidak mengetahui
persesuaian yang sempurna antara kalender Yulius dan
kalender Bulan, 235 bulan lunar (perhitungan bulan) sama
dengan 19 th. Yulius yang terdiri daripada 365.25 hari;
lamanya tahun kita yakni 365 hari tidak benar betul, karena
ia memerlukan koreksi setiap 4 th. (tahun kabisat). Dengan
kalender Bulan, segala sesuatu terulang tiap 19 tahun
Yulius. Ini namanya cyclus meton. Meton adalah seorang
astronom Yunani yang pada abad V S.M. menemukan persesuaian
total antara kalender Matahari dengan kalender Bulan.
2. YANG MENGENAI MATAHARI
Adanya orbit lebih sukar diamati, oleh karena kita biasa
menganggap bahwa sistem matahari diatur di sekitar matahari.
Untuk memahami ayat Qur-an, kita harus menyelidiki situasi
matahari dalam galaksi kita dan menggunakan hasil-hasil
daripada Sains modern.
Galaksi kita memuat jumlah yang sangat besar daripada
bintang-bintang yang dibagi menurut suatu disk (bundaran)
yang tengahnya lebih tebal daripada pinggirnya. Matahari
menduduki tempat yang jauh daripada pusat disk tersebut.
Oleh karena galaksi berputar sendiri dengan axis sebagai
pusatnya, maka matahari itu beredar sekitar pusat tersebut
menurut orbit putaran. Astronomi modern sudah dapat
menghitung beberapa perincian. Pada tahun 1917 Shapley telah
mengatakan bahwa jarak antara matahari dan pusat galaksi
adalah 10 kiloparsecs; ini berarti dalam kilometer angka 3
ditambah dengan 17 nol. Untuk memutari dirinya sendiri,
galaksi dan matahari memerlukan 250 miliun tahun, dan dalam
gerak ini matahari bergeser dengan kecepatan 250 kilometer
tiap detik.
Itulah gerakan orbit matahan yang disebutkan oleh Qur-an 14
abad yang lalu, adanya orbit serta bintang-bintang di
dalamnya telah dibuktikan kebenarannya oleh Astronomi
modern.
PETUNJUK KEPADA PERGESERAN BULAN DAN MATAHARI
DALAM ANGKASA (SPACE) DENGAN GERAK PRIBADI
Soal ini tidak disinggung dalam terjemahan-terjemahan Qur-an
yang dilakukan oleh ahli-ahli sastra. Karena mereka tidak
mengerti astronomi, mereka menterjemahkan kata bahasa Arab
yang menunjukkan pergeseran dengan salah satu arti kata
tersebut, yaitu berenang. Hal ini terjadi dalam terjemahan
Perancis dan dalam terjemahan Inggeris yang sangat populer
yaitu terjemahan Yusuf Ali. Kata bahasa Arab yang
menunjukkan pergeseran dengan gerak pribadi adalah kata
kerja sabaha (yasbahuna dalam kedua ayat); arti kata kerja
itu mengandung pergeseran dengan gerak pribadi dari benda
yang bergeser. Hal itu dinamakan "berenang" jika terjadi
dalam air, dan dinamakan bergeser dengan gerakan anggautanya
jika pergeseran itu terjadi di atas bumi. Untuk pergeseran
dalam angkasa, orang tidak dapat menunjukkan maksud tersebut
kecuali dengan memakai arti yang asli. Dengan cara ini,
rasanya tak ada kekeliruan, karena pertimbangan-pertimbangan
berikut:
Bulan berputar sekitar dirinya sendiri dalam waktu ia
melakukan edaran sekitar bumi, kira-kira 29.5 hari, sehingga
ia menunjukkan wajah yang sama kepada penglihatan kita.
Matahari beredar sekitar dirinya sendiri dalam waktu
kira-kira 25 hari. Terdapat keistimewaan edaran untuk
khatulistiwa dan kutub-kutub. Kita tak akan membicarakan
perincian ini, akan tetapi bintang itu pada umumnya
mengandung gerak edar.
Jadi jelas bagi kita bahwa Qur-an terdapat nuansa kata kerja
yang menunjukkan gerak pribadi daripada matahari dan bulan.
Gerak daripada dua benda samawi telah dibuktikan adanya oleh
hasil-hasil Sains modern, dan kita tidak dapat mengerti
bagaimana seorang yang hidup pada abad VII M. dapat
mengetahuinya, walaupun orang itu yang pandai pada waktunya,
dan sudah terang Muhammad bukan orang yang paling pandai.
Kadang-kadang orang membandingkan berita Qur-an yang
dikuatkan oleh Sains modern dengan contoh-contoh ahli pikir
zaman kuno yang mengumumkan fakta-fakta yang kemudian diakui
kebenarannya oleh Sains. Mereka tidak dapat sampai kepada
fakta-fakta itu dengan jalan deduksi; mereka itu memakai
cara berfikir filsafat. Sebagai contoh mereka menyebutkan
pengikut-pengikut Pythagoras yang pada abad VI S.M.
mempertahankan teori peredaran bumi di sekitar dirinya
sendiri dan gerak planet memutari matahari; Sains modern
membenarkan teori tersebut.
Jika kita mengikuti kasus para pengikut Pythagoras, menjadi
mudahlah bagi kita untuk mengatakan suatu hipotesa bahwa
Muhammad adalah seorang ahli fikir yang istimewa, yang
dengan dirinya sendiri dapat mengkhayalkan hal-hal yang
kemudian diungkapkan oleh Sains modern beberapa abad
sesudahnya.
Jika kita berbuat begitu, kita lupa menyebutkan aspek-aspek
lain tentang hasil-hasil pemikiran para filsuf itu dan lupa
pula menyebutkan kekeliruan-kekeliruan besar terdapat dalam
karya-karya mereka. Misalnya saja, para pengikut Pythagoras
mempertahankan teori yang mengatakan bahwa matahari tetap
(tidak bergerak) dalam angkasa, bahwa matahari adalah pusat
alam dan tak ada organisasi samawi sekelilingnya. Sudah
menjadi kebiasaan untuk menemukan pada filsuf-filsuf besar
di zaman kuno itu suatu campuran daripada pendapat yang
benar dan pendapat yang salah tentang kosmos. Hendaknya
gemerlapan yang diberikan oleh konsep-konsep yang sangat
maju kepada karangan-karangan manusia itu jangan sampai pula
melupakan kita kepada konsep-konsep yang salah yang juga
diwariskan oleh mereka. Di sinilah perbedaan antara
karangan-karangan para filsuf tersebut dengan Qur-an. Qur-an
menyebutkan bermacam-macam persoalan yang sesuai dengan ilmu
pengetahuan modern, dan sama sekali tidak mengandung hal
yang bertentangan dengan Sains yang sudah diakui
kebenarannya pada waktu ini.
URUTAN-URUTAN ANTARA SIANG DAN MALAM
Pada waktu manusia menganggap bahwa bumi itu pusat alam dan
matahari itu bergerak di sekitar bumi, siapa yang tidak
menyebutkan matahari dalam membicarakan urut-urutan antara
siang dan malam? Tetapi hal semacam itu tidak terdapat dalam
Qur-an. Qur-an membicarakan urut-urutan siang dan malam
sebagai benkut:
Surat 7 ayat 54:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat."
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar)
bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan siang
dan malam itu, maka dengan serta merta mereka
berada dalam kegelapan."
Surat 31 ayat 29 :
[Tulisan Arab]
Artinya: "Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya
Allah memasukkan malam kedalam siang dan
memasukkan siang kedalam malam, dan Ia mudahkan
(perjalanan) matahari dan bulan? Tiap-tiap suatu
berjalan hingga satu tempat yang ditentukan ..."
Surat 39 ayat 5:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan
siang atas malam."
Ayat pertama tidak memerlukan penjelasan. Ayat kedua hanya
memberi gambaran. Ayat ketiga dan keempat dapat menarik
perhatian tentang penggulungan malam kepada siang dan
penggulungan siang kepada malam.
Penggulungan (enrouler, bahasa Perancis) seperti terdapat
dalam terjemahan R. Blachete nampaknya melupakan terjemahan
yang paling baik untuk kata kerja bahasa Arab "kawwara. "
Arti dasar daripada kata kerja itu ialah rnenggulung serban
berbundar-bundar di atas kepala. Dalam kata lain, arti
menggulung itu tetap ada.
Apakah yang sesungguhnya terjadi di angkasa? Seperti yang
telah dilihat dan diambil fotonya oleh astronout-astronout
Amerika dari pesawat luar angkasa mereka, jauh daripada
bumi, mulai daripada bulan umpamanya, matahari itu menyinari
secara terus menerus (kecuali dalam keadaan gerhana). Separo
bumi yang berhadapan dengannya, sedangkan yang separo lagi
dalam kegelapan. Bumi berputar sekitar dirinya sendiri dan
pada waktu itu pancaran sinar tetap berlangsung; satu bagian
(zone) yang diterangi dan merupakan separo bumi melakukan
putaran sekeliling bumi selama 24 jam, sedang yang separo
lagi yang dalam gelap menyelesaikan perputaran pada waktu
yang sama. Perputaran yang terus menerus antara siang dan
malam dilukiskan dalam Qur-an secara sempurna. Hal ini
sekarang dengan mudah dapat dimengerti manusia oleh karena
kita mempunyai ide tentang "diam" (fixedness)nya matahari
yang relatif serta ide tentang peredaran bumi. Proses
penggulungan yang terus-menerus, dengan penetrasi (masuk)
yang juga secara terus menerus, dari satu bagian ke bagian
yang lain telah digambarkan oleh Qur-an, seakan-akan pada
waktu Qur-an diwahyukan orang sudah mengetahui bahwa bumi
itu bulat. Pada hakekatnya, pada waktu itu manusia belum
mengetahui hal tersebut.
Kita perlu memberi tambahan terhadap pemikiran tentang
urut-urutan siang dan malam. Tambahan itu ialah bahwa
beberapa ayat Qur-an menyebutkan beberapa timur dan barat.
Hal ini adalah sekedar diskriptif, oleh karena fenomena ini
dapat dilihat dari pengamatan yang sederhana. Hal tersebut
saya cantumkan di sini dengan maksud untuk menunjukkan apa
yang dikandung oleh Qur-an selengkap mungkin
Umpamanya, dalam surat 70 ayat 40:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki
timur dan barat."
dan Surat 55 ayat 17:
[Tulisan Arab]
Arinya: "Tuhan dua timur dan dua barat."
Dalam surat 43 ayat 38, jarak dua timur menunjukkan jarak
yang sangat besar antara dua tempat.
Orang yang mengamati terbit dan terbenamnya matahari
mengetahui benar bahwa matahari teibit pada beberapa
tempat-tempat yang berlainan di timur, dan terbenam di
beberapa tempat yang berlainan di barat menurut musim.
Tanda-tanda yang diambil dari beberapa ufuk (horizon)
menunjukkan titik-titik yang paling berjauhan yang
menunjukkan dua timur dan dua barat dan di antara
tempat-tempat itu terdapat-titik-titik pertengahan sepanjang
tahun. Fenomena yang disebutkan di sini dapat dikatakan
tidak penting. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah
mengenai soal-soal lain yang dibahas dalam fasal ini, dimana
didalamnya fenomena-fenomena astronomi yang disebutkan dalam
Qur-an adalah sesuai dengan pengetahuan modern.
|
|
|
|
| Indeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team |
pengaturan samawi
29000000Sabtu07 25 2007teknology ilmu5
27000000Jumat07 25 2007| Menyusuri Jejak Ash-Shiddiq | ![]() |
![]() |
| Selasa, 24 Juli 2007 | |
| var sburl3116 = window.location.href; var sbtitle3116 = document.title; var sbtitle3116=encodeURIComponent(“Menyusuri Jejak Ash-Shiddiq”); var sburl3116=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5079″); sburl3116=sburl3116.replace(/amp;/g, “”);sburl3116=encodeURIComponent(sburl3116);
Seorang astronot Melayu akan menembus langit. Kader-kader Islam, sudah menembus langit sejak tahun 621 Masehi hanya berbekal keimanan
[catatan untuk sebuah ekspedisi luar biasa]
Dzikrullah W Pramudya
Jika tak ada halangan, bulan Oktober nanti kita akan punya astronot Melayu pertama. Namanya Sheikh Muszaphar Shukor. Dokter spesialis bedah tulang di Rumah Sakit Universiti Kebangsaan Malaysia ini akan menembus Stratosfir dengan pesawat Soyuz TMA-11 milik Rusia, sebagai bagian dari kesepakatan kedua negara dalam transaksi jet tempur senilai satu miliar dolar. Namun begitu, Shukor bukan Muslim pertama yang menembus langit. Faktanya, sejak tahun 1985 sudah delapan orang Muslim yang menjadi astronot maupun kosmonot. Pangeran Sultan ibn Salman ibn Abdul Aziz Al-Saud dari Arab Saudi (1985). Pilot Kolonel Muhammad Faris dari Angkatan Udara Suriah (Juli 1987). Kolonel Musa Manarov asal Azerbaijan di Angkatan Udara Uni Soviet (Desember 1987 sampai Desember 1988). Abdul Ahad Mohmand asal Afghanistan (1988). Tokhtar Aubakirov dari Kazakhstan (1991). Talgat Musabayev juga asal Kazakhstan (1994). Pilot jet tempur Russia asal Uzbekistan, Salizhan Sharipov (2004). Anousheh Ansari, perempuan Iran warganegara Amerika (September 2006). Sedangkan antariksawan Muslim pertama yang sesungguhnya sudah kita kenal dengan baik, Muhammad ibn Abdullah Salallaahu ‘alaihi wa sallam. Jalur misi ruang angkasanya pasti tak bisa ditandingi misi manapun sampai akhir zaman. Perjalanan Malam beliau menempuh tiga etape: pertama, perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem; kedua, perjalanan ruang angkasa menembus tujuh lapis langit sampai ke Sidratul Muntaha; terakhir, perjalanan pulang ke kota Makkah sebelum subuh. Konon kabarnya, perjalanan Isra’ Mi’raj (tahun 621 Masehi) itu telah mengilhami banyak kajian ilmiah mengenai ruang angkasa selama berabad-abad. Meskipun begitu, catatan terpenting dari Isra’ Mi’raj bukanlah penemuan-penemuan ilmiah masa kini yang sedikit demi sedikit menjelaskan ‘kebenaran’ peristiwa itu. Catatan terpentingnya adalah, bagaimana seorang Muslim meyakini secara sempurna dan menerima kebenaran peristiwa itu sebagai fakta. Keyakinan itu utuh mengalir di sekujur syaraf dan pembuluh darah seorang Muslim, dengan ataupun tanpa adanya penjelasan ‘ilmiah’. Model terbaiknya adalah keyakinan pria bernama Abdullah ibn Abu Quhafah alias Abu Bakr, semoga Allah ridha kepadanya. Fajar baru saja menyingsing ketika Sang Nabi menyampaikan laporan perjalanannya itu kepada para pemimpin Musyrikin Qurays. Begitu mendengar penyampaian Nabi itu, tokoh nomor satu mereka Umar ibn Hisyam alias Abu Jahl menyeringai gembira. Ia merasa memperoleh satu lagi alasan guna menunjukkan kepada publik betapa ‘gilanya’ Muhammad yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Dengan semangat itulah Abu Jahl segera menyebarluaskan ‘ocehan’ Muhammad itu kepada publik, terutama kepada Abu Bakr. Pria ini adalah pengusaha dan tokoh yang disegani karena akhlaq dan kejujurannya. Posisinya sedang dipojokkan terus karena kesetiaannya kepada Muhammad dan ajarannya. Abu Jahl berharap, setelah mendengarkan “cerita gila” tentang Perjalanan Malam itu, goyah lah loyalitas Abu Bakr. Memang terbukti, beberapa orang Makkah yang tadinya bersimpati kepada Sang Nabi menjadi ragu dan surut. Namun reaksi Abu Bakr sungguh di luar dugaan. Seakan-akan tanpa berpikir lagi, pria yang kelak menjadi khalifah pertama sesudah kematian Sang Nabi itu, memberikan respon mantap seorang sahabat sejati, “Jika memang benar Muhammad mengatakan demikian, maka dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya jika ia mengatakan yang lebih dari itu.” Sejak itu gelar Ash-Shiddiq (yang benar, jujur, dan membenarkan) tersemat di jantung hatinya, berkilau-kilau di sepanjang koridor sejarah sampai hari ini, sampai akhir dunia, jika Allah menghendaki. Keyakinan Abu Bakr yang murni dan solid itu setidaknya telah membenarkan enam hal fundamental, yang apabila salah satu saja kita ragukan maka berpotensi cacat lah keimanan kita sebagai seorang Muslim. Pertama, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Allah Maha Berkuasa atas setiap milimeter ruang bumi dan langit yang nyaris tak berbatas itu. Dia Maha Berkuasa juga atas seluruh makhluk dan benda di dalamnya. Enteng saja bagi Allah memindah-mindahkan makhluknya menembus jutaan tahun cahaya. Kedua, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Jibril ‘alaihissalam adalah Malaikat utusan Allah dengan kemampuan luar biasa sehingga mampu menjalankan tugas besar pada malam itu, mendampingi Muhammad menembus dimensi ruang dan waktu. Ketiga, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Muhammad ibn Abdullah Salallaahu ‘alaihi wa sallam, adalah lelaki yang sangat diistimewakan dan secara khusus diutus Allah untuk tugas menyeru seluruh manusia dari semua ras, negeri dan zaman. Bagi Abu Bakr, setiap patah kalimat serta tindakan Muhammad adalah benar. Bahkan bila ada yang keliru, lantas diluruskan Allah pun, diyakini Abu Bakr sebagai proses yang benar. Sebagai bagian dari keyakinan sempurna itu, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa malam itu Muhammad melakukan suatu perjalanan yang hampir tak mampu difahami akal manusia. Keempat, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa telah mendahului Muhammad ratusan nabi dan rasul. Mereka semua sudah melaksanakan tugas dari Allah menyeru ummat demi ummat manusia, di zaman yang lampau, supaya hidup di dunia dengan menyembah dan mentaati Allah saja. Malam itu di Masjidil Aqsa, dengan pengaturan canggih Allah Ta’ala, Nabi Muhammad bertemu muka dengan para nabi dan rasul dari berbagai zaman dan negeri, bahkan mengimami mereka shalat berjama’ah. Beliau juga dipertemukan dengan rasul-rasul utama di lapisan-lapisan petala langit. Kelima, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Neraka dan Syurga merupakan fakta. Bahwa kehidupan Akhirat yang kekal sesudah kehidupan dunia yang sebentar ini adalah fakta. Bahwa adegan-adegan yang disaksikan oleh Muhammad yang terjadi di Neraka dan Syurga pada malam itu adalah fakta. Bahwa balasan yang kelak akan diterima manusia di Akhirat adalah fakta, sesuai persis seadil-adilnya dengan sikap manusia kepada Allah dan cara hidupnya kepada syariat Allah selama di dunia. Keenam, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa shalat telah di-fardhu-kan langsung oleh Allah Ta’ala kepada manusia lewat Sang Nabi. Sebelum itu, Sang Nabi melaksanakan shalat dua kali sehari, pagi dan petang, sebagaimana yang disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Shalat lima waktu adalah rahmat Allah untuk manusia, yang disampaikan dengan cara yang istimewa. Mereka yang bersegera memenuhi panggilan shalat dan menjaganya, berarti bersegera menyongsong rahmat Allah. Sebaliknya, mereka yang mengabaikannya berarti menampik rahmat Allah. Keenam keyakinan tersebut adalah paket keimanan Abu Bakr Ash-Shiddiq terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj, dan seyogianya juga menjadi paket keimanan kita yang sempurna dan tak berbelah bagi. Sedikit saja kita membiarkan bisikan lembut di hati kita yang menolak atau mengingkari sebagian dari paket keimanan itu, cacatlah syahadat kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Nah, jikalau urusan utuhnya keyakinan ini sudah kita sempurnakan, boleh lah sekarang kita nikmati lezatnya berbagai temuan ‘ilmiah’ mutakhir manusia di bidang teknologi ruang angkasa. “Dialah (Allah) yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya…” (terjemahan kalimat Allah dalam surah Al-‘Alaq [96] ayat 5) Shadaqallaahul ‘Azhiim wa shadaqa Rasuulul Kariim.
Benarlah Allah Yang Maha Agung, benarlah Rasul-Nya yang mulia. * penulis adalah wartawan dan guru madrasah Share this article |
Mutiara hati
27000000Jumat07 25 2007|
“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama Muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” [HR. Bukhori dan Muslim] |
Ilmu5
23000000Senin07 25 2007Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang di amalkan dan berikan kepada orang lain dengan ikhlash tanpa ada paksaan dari pihak lain ilmu ada beberapa yang perlu di pelajari oleh kita adalah ilmu agama dan ilmu dunia. semua itu adalah anugrah dan fitrah dari tuhan yang maha esa. tmtojiri
Ditulis oleh Copyright ud.tojiri mandiri 


