Luthfi Assyaukanie, JIL Jakarta. Saya agak berbeda pendapat dengan Ulil soal kaffah itu, yang karena itu pemahamannya tentang konsep itu menjadi melebar ke mana-mana, sesuatu yang bisa dihindari kalau istilah itu didudukkan dalam konteks al-Quran yang sebenarnya. Ulil, menurut saya, sudah “terpengaruh” dengan penafsiran awam yang mengartikan “silmi” semata-mata sebagai “Islam.” Karenanya, surah Albaqarah (208) itu dipahami secara literal: silmi=Islam, karena akar kata s-l-m sama dengan -i-s-l-m.
Padahal, kalau kita membuka tafsir-tafsir al-Quran dan membacanya secara kritis, kata “silmi” itu bukan berarti Islam, paling tidak bukan satu-satunya. Bahkan ada sebuah kiraat yang diriwayatkan dari A’masy, kata itu tidak dibaca “silmi” tapi “salami” yang tentu saja memiliki makna berbeda dari pengertian yang selama ini beredar. Perlu diketahui, kiraat ini sahih.
Zamakhsyari, imam tafsir yang menurut saya paling ahli dalam bahasa Arab, dalam tafsir Al-Kassyaf-nya, misalnya mengartikan istilah itu dengan “ketaatan kepada Tuhan.” Pendapatnya ini diperkuat dengan asbabun nuzul ayat tersebut, yang sesungguhnya ditujukan bukan untuk orang-orang Islam, tapi justru untuk Ahlul Kitab yang dalam konteks itu dianggap punya kecenderungan bersikap “sinkretis.”
Dalam konteks “silmi” yang berarti “islam” kita bisa membandingkannya dengan asbabun nuzul ayat tersebut yang jelas-jelas akan memberikan impresi berbeda dari yang selama ini kita pahami dari kaum literalis. Ayat itu diturunkan untuk Abdullah bin Salam, seorang Yahudi Madinah yang konon setelah masuk Islam tetap menjalankan ritual-ritual keagamaan lamanya (ia masih menjalankan ritual sabat dan membaca taurat dalam salat!), sesuatu yang membuat para sahabat “cemburu” dan kemudian protes kepada Nabi. Lalu, turunlah ayat “udkhulu fissilmi kaffah” itu sebagai protes untuk sikap keberagamaan Abdullah yang sinkretis itu.
Jadi, “kaffah” itu saya kira tak ada hubungannya dengan “berislam secara total” seperti selama ini dipahami, tapi ia hanyalah pesan untuk menghindari sinkretisme.
Ditulis oleh Copyright ud.tojiri mandiri 
